Satu Hari Jaga

Minggu, 10 Juli 2011

Hari Minggu, lagi-lagi jadwal jaga Rumah Kreatif, ha-ha.

Episode hari ini, kami minta anak-anak menggambar keluarga mereka di atas kertas. Seperti biasa, mereka punya antusiasme tak terbendung (kalau bukan dibilang badung). Segera setelah mendapat kertas, mereka mulai menggambar baba, mama, ka'e, ari. Ceritanya serius. Oh, kami juga meminta mereka menulis surat untuk kakek atau nenek, untuk keperluan program Posyandu Lansia di desa Paderape dan Rendoraterua. Ada yang masih punya, ada juga yang mengaku kakek neneknya sudah tidak ada. Tapi ya, meski diinstruksikan menulis surat, kebanyakan dari bocah-bocah ini malah nulis dialog antara mereka dan neneknya, kayak, "Hai Nenek sedang apa?". Sejenis itu. Atau malah, cerita tentang rumah nenek yang mereka datangi untuk bermain. Mirip-mirip cerita kanak-kanak Ibukota.

Episode hari ini, nggak jauh dari melihat kanak-kanak tanpa alas kaki saling berkomunikasi dengan dua bahasa, Ende dan Indonesia. Mengamati komunikasi verbal dan non-verbal yang tercipta, melihat betapa komunikasi cubit-pukul-tempeleng bahkan antar sesama bocah tampak masih cukup populer. Kalau versi orang dewasanya, mereka bilang anak-anak pulau ini emang harus dikerasin agar patuh. Entahlah.

Hari ini seru karena saya masih (selalu) menang main catur lawan Afan yang (selalu) penasaran, meski kalah main Zukatoma kalau lawannya yang sekelas Ambar. Dan masih juga kewalahan karena Rizal, yang bulu matanya lentik dan suka sok ngondek (ya ampun), berrrrkali-kali mencubit saya, disuruh minta maaf oke dia minta maaf, tapi kemudian hal yang sama berulang lagi dan lagi sampai infinity. Sementara anaknya puas banget ketawa karena berhasil membuat saya berpikir bahwa maafnya tahan lama. Lain dari Rizal, saya seneng kok mangku Amal yang kumal (jahat abis), membacakannya buku tebak-tebakan, hewan apa yang melompat paling tinggi, yang berlari paling cepat, yang paling besar, yang paling kecil. Tentu saja aktivitas itu bisa dilakukan setelah menyeret ia (dan beberapa anak lain) ke kamar mandi Puskesmas untuk pipis dan cuci tangan yang bersih.

Episode hari ini berakhir dengan doa, semoga jangan lagi ada orang gila yang masuk Rumah Kreatif dan mau jebe-jebe ikutan main. Masa iya harus kirim SOS dan mengandalkan Baba Mira, lagi?

Dsc05072_2

Pelangi di Redodori

Jumat, 15 Juli 2011

Pagi tadi di kantor desa Redodori, kami melihat sebentuk pelangi menampakkan diri, baguuuuuuuuuuuss sekalilililililili (lebay). Kala itu saya, Nurul, Kak Fantri, juga Kak Aries and the gank, baru saja selesai menyapu jalanan dalam rangka Jumat bersih. Sambil mempersiapkan kantor desa untuk dipakai acara penyuluhan hukum pukul delapan, kami meletakkan sapu lidi; menyetel keras-keras Ikimea, dan mulai menari ja'i. Hahahahaha. Hujan mulai reda, Mama Halil dan staf pengurus desa mulai berdatangan. Dan, barulah terlihat warna-warni pelangi, pertanda hari ini akan berseri.

Benarlah, entah bagaimana saya merasa, tadi itu adalah sesi penyuluhan hukum terbaik.

Acara dimulai tepat waktu, dengan jumlah hadirin yang membludak, menembus angka 74 (Sila dan Kak Aries sampai harus pontang-panting nyari kue tambahan). Alih-alih penyuluhan hukum, acara ini lebih seperti sebuah diskusi publik. Saya tadi dengan nerpes dan sok taunya, ngasih materi tentang sertifikasi tanah, Pak Chairul dari kepolisian menerangkan sekilas materi administrasi penduduk, minuman keras, dan KDRT, Kak Hamsih mengulas miras (moke) dari segi agama, dilengkapi dengan tinjauan kesehatan dari Nurul. Om Ben dari kecamatan juga hadir. Tika, Sila, dan Robi juga ikut membantu, meski saya sempet ketar-ketir di awal karena anak-anak belum ada yang dateng, pembicara belum lengkap, sementara kantor desa udah penuh sama warga. Hua.

Pagi tadi, saya merasa sangat banggaaaaaaaaaaaa sama desa ini. Bangga jadi bagian dari Redodori, jadi anaknya Baba Madin kepala desa. Pagi tadi kami melihat bukti cinta Bapak Desa terhadap warganya. Tangis beliau tumpah demi membahas soal minuman keras yang memang telah menjadi polemik berkepanjangan di sini. Bapak Desa, bersama segenap warga, mengajukan usul untuk mendeklarasikan Pulau Ende Bebas Miras, layaknya mereka mendeklarasikan Pulau Ende Bebas BAB Sembarangan di Pantai Ekoreko tempo hari, jauh sebelum kami menjejakkan kaki di pulau ini.

Pagi tadi saya melihat tekad, melihat satu keinginan untuk mengumpulkan seluruh elemen masyarakat, duduk bersama, bahu membahu mengenyahkan moke dari kampung muslim ini. Sampai kini saya berdoa agar semua itu bukan sekedar wacana utopis, ucapan manis yang mengambang di udara tanpa tindakan nyata.

Doa kami selalu teriring, agar Tuhan memberikan kemudahan bagi pulau ini pada umumnya, desa Ndoriwoy dan Redodori khususnya, untuk melepaskan diri dari jerat alkohol, dan menjadikan pulau ini benar-benar layaknya serambi Mekkah kedua.

Pagi tadi tidak saja saya melihat pelangi di langit Redodori, tapi juga di mata Bapak Desa kami, yang basah. Dan memerah.

Dsc06353

Pak, ja'o kangen.